Kamis, 13 Oktober 2011

bahan ajar teori belajar

PERTEMUAN 1
KONSEP BELAJAR
1. Skinner(1958) Learning is a procee of progressive behavior adaptation : Belajar merupakan proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif.ini berarti bahwa sebagai akibat dari belajar adanya sifat progresivitas.
2. Mc Goch(1956) Learning is a change in performance as a result of practice : Belajar membawa perubahan dalam performance, dan perubahan ini sebagai akibat dari latihan (practice).
TEORI BELAJAR
A. TEORI BELAJAR SEBELUM ABAD KE-20
1. Teori Disiplin Mental
Sebelum abad ke-20, telah berkembang beberapa teori belajar, salah satunya adalah teori disiplin mental. Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen, dan ini berarti dasar orientasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Tokoh teori disiplin mental adalah Plato dan Aristoteles. Teori disiplin mental ini menganggap bahwa dalam belajar, mental siswa harus didisiplinkan atau dilatih.
2. Teori Perkenbangan Alamiah
Belajar baru akan terjadi dan mendatangkan hasil bila anak telah benar-benar merasakan kebutuhan untuk belajar. Saat itu ia akan melakukannya dengan penuh kegembiraan sehingga pengalaman akan melekat sebagai kecakapan atau keterampilan
3. Teori Apersepsi
Belajar adalah suatu proses terasosiasinya gagasan-gagasan baru dengan gagasan-gagasan lama, yang sudah terbentuk di alam pikiran. Misalnya, anak akan memelajari kata “kuda”. Ia diperlihatkan gambar kuda di atas tulisan kuda. Kemudian, ia menganalisis huruf perhuruf.

B. TEORI BELAJAR ABAD KE-20
1. Teori Behavioristik
Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati. Tokohnya E.L Thorndike, Ivan Patrovich, B.F Skinner dan Bandura. Temuan penelitian para ahli ini dalam prinsipnya mempunyai kesamaan, yaitu bahwa perubahan tingkah laku terjadi karena semata-mata oleh lingkungan.
a. Teori Koneksionisme (Thorndike)
Prinsip pertama dari teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi antara kesan panca indra dengan kecenderungan bertindak. Prinsip kedua adalah pelajaran akan semakin dikuasai bila diulang-ulang. Prinsip ketiga adalah koneksi antara kesan panca indra dengan kecenderungan bertindak dapat melemah atau menguat, tergantung pada hasil perbuatan yang pernah dilakukan.
Teori Behaviorisme adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan.Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
b. Teori Clasiccal Conditioning (Pavlov)
Pavlov membuat teori pada eksperimennya yang terkenal tentang fungsi kelenjar ludah pada anjing. Kemudian, ia menyimpulkan bahwa tingkah laku tertentu dapat dibentuk secara berulang-ulang. Watson mengembangkan teori tersebut.
c. Teori Operant Conditioning (Skinner)
Teori Operant Conditioning memiliki persamaan dengan teori Pavlov dan Watson, tetapi lebih terperinci. Ia membedakan adanya dua macam respons: respondent response, yaitu respons yng ditimbulkan stimulus tertentu, dan operant respondent, yaitu respons yang menimbulkan stimulus baru sehingga memperkuat respons yang telah dilakukan.

2. Teori Kognitif
Tokohnya Kohler, Max Wertheimes, Kurt Lewin dan Bandura, dasar teori belajar tokoh ini sama. Yaitu dalam belajar terdapat kemampuan mengenal lingkungan, sehingga lingkungan tidak otomatis mempengaruhi manusia.
a. Teori Gestalt
Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi Kognitif. Teori ini berbeda dengan Behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalh mengetahui dan bukan respons. Teori ini menekankan pada peristiwa mental, bukan hubungan Stimulus-respons. Teori Gestalt,berkembang dijerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Werthaimer, menurut Gestalt belajar siswa harus memahami makna hubungan antar satu bagian dengan bagian lainnya. Belajar adalah mencari dan mendapatkan prognanz, menemukan keteraturan, keharmonisan dari sesuatu.
b. Teori Medan (Kurt Lewin)
Pada dasarnya, teori Lewin dapat dikatakan sebagai perluasan teori Gestalt, yaitu:
1. Belajar adalah pengubahan struktur kognitif. Maknanya, pemecahan problem hanya terjadi bila struktur kognitif dirubah.
2. Hadiah dan hukuman merupakan dua sarana motivasi belajar yang memerlukan pengawasan agar digunakan wajar dan tepat.
3. Faktor motivasi belajar lain adalah masalah sukses dan gagal. Sukses akan menjadi pendorong belajar, sedangkan gagal akan menyebabkan kemunduran belajar.
Teori medan atau Field, menurut teori ini individu selalu berada dalam suatu medan atau ruang hidup. Dalam medan hidup ini ada suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi untukmencapainyaselaluadahambatan.Jadi perbedaan pandangan antara pendekatan Behavioristik dengan Kognitif adalah sebagai berikut:
a. Proses atau peristiwa belajar seseorang, bukan semata-mata antara ikatan Stimulus, Respons, melainkan juga melibatkan proses kognitif.
b. Dalam peristiwa belajar tertentu yang sangat terbatas ruang lingkupnya misalnya belajar meniru sopan santun dimeja makan dan bertegur sapa. Peranan ranah cipta siswa tidak begitu menonjol, meskipun sesungguhnya keputusan untuk meniru atau tidak ada pada diri orang itu sendiri.



PERTEMUAN 2
TEORI KONEKSIONISME THORNDIKE
Pengaruh pemikiran Thorndike dalam studi psikologi khususnya dalam psikologi belajar sangat besar. Hampir setengah abad teorinya menguasai ahli teori belajar lainnya. Hal ini ditunjukan dengan adanya ahli yang setuju maupun yang tak setuju terhadap pendapatnya atau teorinya.. Thorndike merupakan contoh dari seorang teoritis yang karyanya dipandang mendominasi psikologi dan pendidikan pada masanya. Dalam melakukan eksperimennya, pilihan pertamanya mengadakan penyelidikan terhadap anak-anak (human learning) tetapi kemudian lingkungannya membuat ia mulai mempelajari binatang (animal learning) sebagai penggantinya.
A. Eksperimen Thorndike
1. Pokok-pokok Pelaksanaan Eksperimen
Thorndike mengadakan eksperimen terhadap seekor kucing muda yang lapar. Jika kucing menyentuh tombol tertentu, pintu terbuka dan dia dapat lari menuju makanan yang disediakan. Mula-mula, dalam usahanya untuk keluar, dia bergerak dengan bermacam cara. Akhirnya, dia keluar dan langsung menuju makanan. Percobaan berulang kali membuktikan bahwa semakin lama, kucing semakin cepat menyentuh tombol dan dengan segera dapat mencapai makanan.
2. Interpretasi Thorndike atas Percobaannya
 Usaha-usaha binatang pada situasi yang berperangsang untuk keluar dari kungkungan akan bermacam-macam. Tingkah laku mencoba keluar kungkungan tidak berhubungan dengan tingkah laku yang bertujuan membebaskan diri.
 Usaha dengan trial and error makin lama makin singkat karena binatang hanya melakukan gerak-gerak yang berguna dan meninggalkan yang tidak berguna. Ini berlaku secara mekanis tanpa disadari atau diketahui kucing (Bonver dan Hilgard, 1981).
B. Pengaruh Eksperimen Thorndike terhadap Pandangan mengenai Belajar bagi manusia
Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa diperantarai pengertian. Binatang melakukan respon-respon langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis (Suryobroto, 1984).
Selanjutnya, kita dapat mencatat bahwa prinsip-prinsip yang berlaku pada hewan maupun manusia akan sama, yakni berdasarkan pada hukum-hukum belajar, yang terdiri atas tiga hukum primer dan lima hukum subsider
1. Tiga hukum primer ialah:
 Law of readiness
Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan tindakan lain. Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya. Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
 Law of exercise
Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan.
 Law of effect
Hukum ini menunjukkan pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.
2. Lima hukum subsider ialah:
 Law of multiple response (Hukum multirespons atau variasi reaksi)
Seseorang dibiarkan membuat reaksi atau respon dan memilih yang paling baik dan mempunyai nilai intrinsik atau hadiah sosial.
 Law of attitude (Hukum sikap, disposisi, prapenyesuaian diri)
Orang yang belajar mendapat fakta secara pribadi dari hasil respon, sikap atau set yang tidak hanya dipikirkan dan dikerjakannya, tetapi juga yang dienggani, tidak disukai atau ditolak.
 Law of partial activity (Hukum aktivitas parsial suatu situasi)
Untuk menentukan respon variasinya terhadap situasi eksternal, pelajar mengharapkan adanya efek. Usaha tersebut mendapatkan respon dari keseluruhan situasi yang membantu proses berpikir analisis.
 Law or response by analogy (Hukum respons terhadap analogi)
Seseorang mengadakan respon terhadap suatu situasi baru dengan analogi yang sungguh-sungguh diilustrasikan situasi tersebut.
 e shiftinLaw of associativg (Hukum perubahan situasi)
Fakta sama, yang merupakan respon hasil perlawanan suatu insting atau kebiasaan, menghitung asimilasi maupun asosiasi yang berubah (Sahakian 1970).
















PERTEMUAN 3
TEORI PAVLOV’S CLASSICAL CONDITIONING
Classical Conditioning juga disebut teori contiguity (keterdekatan dua objek atau lebih tanpa diselingi hal lain) dikembangkan oleh Ivan Petrovich Pavlov (1894-1936). Dalam mengembangkan teori ini, Pavlov melakukan serangkaian percobaan. Dalam eksperimennya ia menunjukkan daging kepada anjing yang kemudian memakan daging itu. Setiap kali ditunjukkan makanan, anjing itu mengeluarkan air liur. Tampak bahwa daging yang di sini disebut unconditional stimulus (UCS) menyebabkan respons (R), keluar air liur. Pada percobaan-percobaan berikutnya, bel dibunyikan sebelum daging ditunjukkan kepada anjing. Sesudah beberapa kali percobaan, anjing mulai mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bunyi bel saja. Dengan kata lain anjing tersebut telah terkondisi (terbiasa) untuk memindahkan (mentransferkan) responnya, dalam hal ini keluarnya air liur dari stimulus adalah wajar, yakni daging ke stimulus yang terkondisi (conditioned stimulus) dalam hal ini bunyi. Diagram di bawah ini menunjukkan penjelasan di atas.

Unconditioned stimulus (UCS)
(daging)
R
Keluarnya air liur
Conditioned stimulus (CS)
(Bunyi bel)
Gambar. Classical Conditioning
Sementara itu , stimulus daging disebut unconditioned stimulus karena stimulus itu dapat menimbulkan respon tanpa adanya pelatihan atau pembelajaran. Stimulus bunyi bel disebut conditioned stimulus atau setimulus terkondisi karena rangsangan ini dapat menimbulkan respon (R) yakni keluarnya air liur setelah latihan berulang kali dengan memasangkannya bersamaan dengan stimulus daging. Respons yang ditimbulkan oleh conditioned stimulus disebut prespons terkondisi (conditiones respons).
Teori Pavlov didasarkan pada reaksi system tak terkondisi dalam diri seseorang, reaksi emosional yang dikontrol oleh sistem urat syaraf otonom, serta gerak reflek setelah menerima stimulus dari luar. Ada tiga parameter yang diperkenalkan Pavlov melalui teori Clasical Conditioning, yaitu reinforcement, extinction dan spontaneous recovery (penguatan, penghilangan, dan pengembalian spontan).
Menurut Pavlov, respon terkondisi yang paling sedserhana diperoleh melalui serangkaian penguatan yaitu, tindak lanjut atau penguatan yang terus berulang dari suatu stimulus terkondisi yang diikuti stimulus yang tak terkondisi dan respon yang tak terkondisi dalam pada interval waktu tertentu. Dengan demikian pembentukan respon terkondisi pada umumnya bersifat bertahap (gradual). Makin banyak stimulus terkondisi diberikan bersama-sama stimlus tak terkondisi, makin mantaplah respon terkondisi yang terbentuk sampai pada suatu ketika respon terkondisi akan muncul walaupun tanpa ada stimulus tak terkondisi. Jika penguatan dihentikan dan stimulus terkondisi dimunculkan sendiri tanpa stimulus terkondisi dimunculkan sendiri tanpa stimulus tak terkondisi, ada kemungkinan frekuensi respon terkondisi akan menurun atau hilang sama sekali. Proses ini disebut penghilangan atau extinction. Misalnya cahaya dan daging untuk membuat anjing berliur. Jika hanya cahaya yang dimunculkan tanpa daging, lama kelamaan dapat terjadi anjing bmenjadi tidak berliur lagi. Namun demikian bukan tidak mungkin pada suatu waktu anjing akan kembali berliur lagi (respon terkondisi muncul kembali – spontaneous recovery) walaupun hanya cahaya yang dimunculkan (tanpa daging).
Disamping itu, dalam teori Clasical Conditioning hal ini dikenal juga perampatan stimulus, yaitu kecenderungan untuk memberikan respon terkondisi terhadap stimulus yang serupa dengan stimulus terkondisi, meskipun stimulus tersebut belum pernah diberikan bersama-sama dengan stimulus tak terkondisi. Makin banyak persamaan stimulus baru dengan stimulus terkondisi pertama, makin besar pula perampatan yang dapat terjadi. Dalam teori Clasical Conditioning juga mengenal konsep diskriminasi stimulus, yaitu suatu proses belajar untuk memberikan respon terhadap suatu stimulus tertentu atau tidak memberikan respon sama sekali terhadap stimulus yang lain. Hal ini dapat diperoleh dengan jalan memberikan suatu stimulus tak terkondisi yang lain (Morgan, et.al.,1986) sehingga seseorang akan melakukan selective association (asosiasi terhadap stimulus untuk memunculkan respon).


Prinsip Dasar
Segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil dari pada Conditioning.
Prinsip Belajar menurut Teori Classical Conditioning
1. Pengaruh dari lingkungan, misalnya:
a. Berbagai prinsip matematika dituliskan di kertas dan ditempelkan di dinding.
b. Pembelajaran bahasa asing dengan menggunakan kaset atau dialog langsung di sekitar individu.
c. Lingkungan/kondisi ruangan yang kotor menjadikan siswa malas belajar
2. Adanya reward dan punishment, misalnya:
a. Diberlakukannya nilai jelek untuk kegagalan dalam suatu tugas
b. Diberlakukannya hukuman berdiri pada siswa yang tidak bias menjawab
c. Diberlakukannya perjanjian untuk menyelesaikan tugas sampai selesai walaupun harus menunda waktu pulang.

Hukum-Hukum Belajar
1. Low of Respondent Conditioning
Hokum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara stimultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforce), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
2. Low of Respondent Extinction
Hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent contioning itu didatangkan kembalil tanpa menghadirkan reinforce, maka kekuatannya akan menurun.
Pandangan tentang belajar
a. Belajar merupakan hasil dari pada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam kehidupan.
b. Proses belajar terdiri atas pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon refleksif.
PERTEMUAN 4
TEORI BELAJAR GUTHRIE
Hukum Belajar
Menurut Guthrie, teori-teori atau hukum-hukum yang dikemukakan misalnya oleh Pavlov atau Thorndike sangat kompleks yang sebenarnya itu tidak perlu, dan karenya Guthrie hanya mengemukakan suatu hukum saja mengenai belajar, yaitu Hukum Kontiguitas (keterdekatan), sebagai salah satu hokum yang dikemukakan oleh Aristoteles, yang dinyatakan bahwa “kombinasi dari stimulus yang disertai suatu gerakan (movement), bila stimulus itu timbul lagi, maka hal itu akan didikuti oleh gerakan atau movement tersebut”. Guthrie menggunakan hukum kontinguitas sebagai cornerstone dari teorinya yang unik. Agar kejadian dapat dihubungkan sehingga dapat membentuk asosiasi dalam otak, maka kedua kejadian harus terjadi pada waktu dan tempat yang kira-kira sama. Jadi kedua kejadian itu harus berdekatan,karena itu keterdekatan merupakan dasar terbentuknya asosiasi. Teori kontiguitas memandang bahwa belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respon tertentu. Selain itu, Guthrie juga mengemukakan bahwa hukuman memegang peran penting dalam proses belajar. Suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, akan mampu mengubah kebiasaan seseorang.
Lebih lanjut Guthrie mengatakan “bila individu pada suatu situasi berbuat sesuatu (to do something), pada waktu lain, maka pada situasi yang sama akan dilakukan perbuatan yang sama (to so something)”. Tetapi sebelum meningggal Guthrie merevisi hokum kontiguitasnya itu, yaitu “what is being noticed becomes a signal for what is being done”, apa yang dikemukakan atau dibicarakan, merupakan pertanda apa yang akan dikerjakan (Walgito, Bimo, tanpa tahun: 50). Hukum Guthrie menyatakan bahwa hubungan kombinasi stimuli yang disertai gerakan pada perulangan akan cenderung diikuti oleh gerakan (Guthrie, 1952). Dia mengatakan bahwa semua belajar didasarkan pada asosiasi stimulus-respon.
Guthrie menolak hokum frekuensi. Dia percaya dalam satu percobaan belajar. Satu percobaan belajar menyatakan bahwa dorongan pola memperoleh kekuatan penuh asosiatif pada kesempatan pertama dari pasangan dengan respon. Dia tidak percaya bahwa pembelajaran tergantung pada penguatan. Dia memperkuat didefinisikan sebagai sesuatu yang mengubah situasi rangsangan bagi peserta didik (Thorne dan Henley, 1997). Dia meolak memperkuat karena terjadi setelah asosiasi antara rangsangan dan respon telah terjadi. Dia percaya bahwa pembelajaran adalah proses pembentukan baru stimuli sebagai cues untuk beberapa ditentukan tanggapan (Skills, 1968).
Guthrie percaya bahwa prinsip kebaruan memainkan peran yang penting dalam proses pembelajaran. Prinsip ini menyatakan bahwa yang terakhir dilakukan di hadapan sejumlah stimuli apa yang akan dilakukakan bila terjadi kombinasi rangsangan lagi. Ia percaya bahwa ia adalah waktu hubungan antara ganti rangsangan dan respon yang dihitung. Ketika dua asosiasi yang hadir dengan memberi isyarat yang sama, yang lebih baru ini akan berlaku. Rangsangan-respon sambungan cenderung menjadi lemah dengan waktu berlalu.






















PERTEMUAN 5
TEORI BELAJAR SISTEMATIK HULL
Clark Hull (1943) mengemukakan konsep pokok teorinya yang sangat dipengaruhi oleh teori evolusinya Charles Darwin, yaitu mengembangkan sebuah teori dalam versi behavioristisme. Ia menyatakan bahwa stimulus (S) mempengaruhi organisme (O) dan menghasilkan respon itu tergantung pada karakteristik O dan S. Dengan kata lain, Hull telah berminat terhadap studi yang mempelajari variable intervening yang mempengaruhi perilaku seperti dorongan atau keinginan, insentif, penghalang, dana kebiasaan.
Teori Hull ini disebut teori mengurangi dorongan (drive reduction theory). Seperti teori-teori behavior lain, reinforcement merupakan factor utama menentukan belajar dimana kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting. Suatu kebutuhan bilogis pada makhluk hidup menghasilkan suatu dorongan (drive) untuk melakukan aktivitas memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa makhluk hidup ini akan melakukan respon berupa reduksi kebutuhan (need reduction response). Bedanya, dalam Drive Reduction Theory pemenuhan dorongan atau kebutuhan lebih dikurangi dan mempunyai peran yang sangat penting dalam perilaku daripada dalam teori-teori belajar behaviorisme yang lain. Bagi Hull, tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup. Dorongan (motivators of performance) dan reinforcement bekerja bersama-sama untuk membantu makhluk hidup mendapatkan respon yang sesuai (Wortman, 2004).
Secara teoritis, kerangka teori Hull berisi dalil-dalil yang dinyatakan dalam bentuk matematik:
1. Organisme memilki sebuah hierarki kebutuhan yang muncul karena adanya stimulation atau dorongan;
2. Kebiasaan yang kuat meningkatkan aktivitas yang diasosiasikan dengan reinforcement primer atau sekunder;
3. Stimulus diasosiasikan dengan penghentian sebuah respon menjadi penghalang yang dikondisikan;
4. Lebih efektif reaksi potensi melampaui reaksi minimal, lebih pendek terjadinya penundaan respon (latency response).
Berdasarkan dalil tersebut, Hull menyatakan berbagai macam tipe variable seperti generalisasi, motivasi, dan variabilitas dalam belajar. Dan kemudian Hull merumuskan teorinya dalam bentuk persamaan matematis antara drive (energi) dan habit (arqah) sebagai penentu dari behaviour (perilaku) dalam bentuk: Behaviour = Drive x Habit
Karena hubungan dalam persamaan tersebut berbentuk perkalian, maka ketika drive = 0, makhluk hidup tidak akan bereaksi sama sekali, walaupun habit yang diberikan sangat kuat dan jelas (Berliner & Calfee, 1996).
Salah satu konsep yang paling penting dalam teori Hull adalah hierarki kebiasaan yang kuat bagi sebuah stimulus yang diberikan, sebuah organisme akan dapat merespon dengan sejumlah cara. Seperti sebuah respon yang spesifik mempunyai sebuah kemungkinan dapatdiubah oleh hadiah dan dipengaruhi oelh berbagai macam variable lain (seperti halangan). Dalam beberapa bacaan tentang teori Hull ini, hirarki kebiasaan yang kuat menyerupai komponen-komponen teori kognitif.
Drive Reduction Theory memiliki beberapa prinsip, yaitu:
1. Dorongan merupakan agar terjadi respon (siswa harus memiliki keinginan untuk belajar);
2. Stimulus dan respon harus dapat diketahui oelh organisme agar pembiasaan dapat terjadi pembiasaan (siswa harus mempunyai perhatian);
3. Respon harus dibuat agar terjadi pembiasaan (siswa harus aktif); dan
4. Pembiasaan hanya terjadi jika reinforcement dapat memnuhi kebutuhan (belajar memuhi keinginan siswa).













PERTEMUAN 6
TEORI BELAJAR HUMAN ASSOCIATIVE LEARNING



























(PERTEMUAN 7) – UJIAN TENGAH SEMESTER

PERTEMUAN 8
OPERANT CONDITIONING SKINNER

































(PERTEMUAN 9)
TEORI BELAJAR GESTALT
Teori Belajar Gestalt
Gestalt adalah sebuah teori yang menjelaskan proses persepsi melalui pengorganisasian komponen-komponen sensasi yang memiliki hubungan, pola, ataupun kemiripan menjadi kesatuan. Teori gestalt beroposisi terhadap teori strukturalisme. Teori gestalt cenderung berupaya mengurangi pembagian sensasi menjadi bagian-bagian kecil.
Teori ini dibangun oleh tiga orang, Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler. Mereka menyimpulkan bahwa seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh.

Pokok-pokok Teori Belajar Gestalt
Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan ( persepsi ) dan mencapai sukses yang terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasinya mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomenal demikian meyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat di bantah.
Ketika para ahli Psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah kuat / sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar . Karena asumsi bahwa hukum-hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.
Pada pengamatan itu menekankan perhatian pada bentuk yang terorganisasi (organized form) dan pola persepsi manusia . Pemahaman dan persepsi tentang hubungan-hubungan dalam kebulatan (entities) adalah sangat esensial dalam belajar. Psikologi Gestalt ini terkenal juga sebagai teori medan (field) atau lazim disebut cognitive field theory. Kelompok pemikiran ini sependapat pada suatu hal yakni suatu prinsip dasar bahwa pengalaman manusia memiliki kekayaan medan yang memuat fenomena keseluruhan lebuh dari pada bagian-bagiannya.


Prinsip Belajar yang Penting
1. Manusia bereaksi dengan lingkungannya secara keseluruhan, tidak hanya secara intelektual, tetapi juga secara fisik, emosional, sosial dan sebagainya
2. Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan.
3. Manusia berkembang sebagai keseluruhan sejak dari kecil sampai dewasa, lengkap dengan segala aspek-aspeknya.
4. Belajar adalah perkembangan kearah diferensiasi ynag lebih luas.
5. Belajar hanya berhasil, apabila tercapai kematangan untuk memperoleh insight.
6. Tidak mungkin ada belajar tanpa ada kemauan untuk belajar, motivasi memberi dorongan yang menggerakan seluruh organisme.
7. Belajar akan berhasil kalau ada tujuan.
8. Belajar merupakan suatu proses bila seseorang itu aktif, bukan ibarat suatu bejana yang diisi.

Hukum-Hukum Belajar Gestalt
Dalam hukum-hukum belajar Gestalt ini ada satu hukum pokok , yaitu hukum Pragnaz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu,yaitu hukum –hukum keterdekatan , ketertutupan, kesamaan , dan kontinuitas.
1. Hukum Pragnaz.
Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian, yaitu berarah kepada Pragnaz itu, yaitu suatu keadaan yang seimbang, suatu Gestalt yang baik. Gestalt yang baik , keadaan yang seimbang ini mencakup sifat-sifat keturunan, kesederhanaan ,kestabilan, simetri dan sebagainya.
Medan pengamatan ,jadi juga setiap hal yang dihadapi oleh individu, mempunyai sifat dinamis, yaitu cendrung untuk menuju keadaan Pragnaz itu , keadaan seimbang . Keadaan yang problematis adalah keadaan yang tidak Pragnaz, tidak teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetri , dan sebagainya dan pemecahan problem itu ialah mengadakan perubahan kedalam struktur medan atau hal itu dengan memasukkan hal-hal yang dapat membawa hal problematis ke sifat Pragnaz.
2. Hukum-hukum tambahan
Ahli-ahli psikologi Gestalt telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwaobjek-objek penglihatan itu membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Adapun prisip-prinsip tersebut dapat dilihat pada hukum-hukum yaitu:
1. Hukum keterdekatan
2. Hukum ketertutupan
3. Hukum kesamaan
Selain dari hukum-hukum tambahan tersebut menurut aliran teori belajar gestalt ini bahwa seseorang dikatakan belajar jika mendapatkan insight. Insight ini diperoleh kalau seseorang melihat hubungan tertentu antara berbagai unsur dalam situasi tertentu. Dengan adanya insight maka didapatlah pemecahan problem, dimengertinya persoalan ; inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang- ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight.

Timbulnya Insight
a. Kesangupan
Maksudnya kesanguapan atau kemampuan intelegensi individu.
b. Pengalaman
Karena belajar, berati akan mendapatkan pengalaman dan pengalaman itu mempermudah munculnya insight.
c. Taraf kompleksitas dari suatu situasi.
Dimana semakin komplek situasinya semakin sulit masalah yang dihadapi.
d. Latihan
Dengan banyaknya latihan akan dapat mempertinggi kesangupan memperoleh insght, dalam situasi-situasi yang bersamaan yang telah dilatih.
e. Trial and eror
Sering seseorang itu tidak dapat memecahkan suatu masalah. Baru setelah mengadakan percobaan-percobaan, sesorang itu dapat menemukan hubungan berbagai unsur dalam problem itu, sehingga akhirnya menemukan insight.
Menurut Hilgard(1948 : 190-195) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan insight :
1. Insight termasuk pada kemampuan dasar
Kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain. Pada umumnya anak yang masih sangat muda sukar untuk belajar dengan insight ini.
2. Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan.
3. Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental
4. Insight itu didahului oleh suatu periode coba-coba
5. Belajar dengan insight dapat diulangi
6. Insight telah dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru

Aplikasi Teori Belajar Gestalt
a. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
c. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.




(PERTEMUAN 10)
TEORI BELAJAR KOGNITIF DARI PIAGET
A. Teori Perkembangan Kognitif
Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan.
Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
 Periode Sensorimotor (usia 0-2 tahun)
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular prime, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
 Periode Praoperasional (usia 2-7 tahun)
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
 Periode operasional konkrit (usia 7-11 tahun)
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
1. Pengurutan, kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
2. Klasifikasi, kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
3. Decentering, anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
4. Reversibility, anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
5. Konservasi, memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
6. Penghilangan sifat Egosentrisme, kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
 Tahapan operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
 Proses perkembangan
Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.
 Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.
 Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.
 Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.
Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya.


(PERTEMUAN 11)
TEORI BELAJAR PENGOLAHAN INFORMASI
(INFORMATION PROCESSING THEORY)















































S













SS











PERTEMUAN 12
TEORI BELAJAR HEMISPHERE THEORY


PERTEMUAN 13
TEORI PRIBAN OF HOLOGRAPHIC MIND
Otak terdiri dari neuron (sel penyusun system saraf).
Neuron terdiri dari:
a. badan sel (di dalamnya terdapat inti sel = nucleus),
b. axon, yaitu serabut saraf pembawa impuls yang berfungsi sebagai transmitter
c. dendrite yang berfungsi sebagai penerima impuls dari stimulus/rangsang yang datang.
Semakin panjang dan semakin banyak dendrite, maka individu akan semakin mampu menangkap stimulus yang datang.
Ada 2 teori otak yaitu:
a. teori otak: hologram
b. teori otak: otak kiri – otak kanan
Teori otak Pribram: Holographic Theory of Mind
Teori ini menganggap bahwa otak merupakan Hologram Models of Reality yang mampu menyimpan semua informasi. Hologram adalah penyimpanan semua proses informasi optical yang berupa sinar dari setiap segi kejadian yang tersebar dipermukaan. Bila ditempatkan di sumber cahaya yang koheren, hologram tersebut bias mewujudkan kembali pola gelombang yang original dari setiap sudut permukaan menghasilkan obyek 3 dimensi. Hologram mempunyai kemampuan untuk menghasilkan kembali informasi yang tersimpan, diwujudkan dalam bentuk 3 dimensi. Obyek 3 dimensi inilah yang merupakan realitas. Realitas merupakan hasil rekonstruksi (pembangunan kembali) dan interpretasi frekuensi dari dimensi lain pada alam semesta.
T. Teyler (1977) dalam Clark (1983): menyatakan bahwa pembentukan otak terjadi sebagai hasil interaksi antara pola genetic (cetak biru=blueprint) dan pengaruh lingkungan. Pada waktu lahir, otrakm manusia terdiri dari 100-200 milyar sel neuron. Setiap sel neuron siap untuk dikembangkan dan siap untuk ditumbuhkan guna memproses beberapa trilyun informasi. Cerebrum (otak besar) terbagi menajdi 2 belahan otak, yaitu belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Ke 2 belahan otak tersebut disambung oleh segumpal serabut yang disebut corpus callosum. Tugas dan fungsi setiap cirri belahan otak itu adalah khusus dan mempunyai respon berbeda. Belahan otak kiri cenderung menganalisa dan umumnya mendominasi kepribadian. Kekhususannya terletak pada ketrampilan bahasa, misalnya tulis menulis, juga matematika dan penalaran. Belahan otak kanan memiliki daya khusus berupa intuisi dan penyerapan ruang, sangat penting untuk kegiatan mencipta, musik, seni dan atletik.
Belahan otak kiri:
• Berpikir analitis
• Berfungsi untuk mengembangkan berpikir logis, rasional, linier dan keteraturan, berpikir yang dapat diramalkan.
• Aspek kognitif
• Cara berpikir konvergen (1 jawaban)
• Berpikir secara vertical

Belahan otak kanan:
• Berpikir kreatif
• Mengembangkan berpikir imajinatif
• Berpikir yang tidak dapat diramalkan
• Aspek afektif
• Cara berpikir divergen (lebih dari 1 jawaban)
• Berpikir secara lateral (kesamping)
Tanpa otak kanan, tidak akan ada gagasan; sedangkan tanpa otak kiri maka gagasan tersebut tidak akan dapat dipikirkan analisanya dan dijelaskan. Semua pengalaman belajar dan pengalaman kehidupan seyogyanya disesuaikan dengan kondisi dan keseimbangan antara kedua belahan otak tersebut untuk menampilkan 4 fungsi dasar manusia yaitu rasa, piker, cipta talen dan intuisi.






PERTEMUAN 14
TEORI CREATIVE THINKING
Berpikir Kreatif (Creative Thinking) adalah berpikir lintas bidang, berpikir bisosiatif, berpikir lateral, berpikir divergen. Berpikir kreatif ditandai dengan karakterristik berpikir yang fluency, flexibility, originality, elaboration, redefinition, novelty (Munandar, S.C.U.1977; Guilford, 1963; McPherson, 1963). Di samping itu, berpikir kreatif juga menuntut adanya pengikatan diri terhadap tugas (task commitment) yang tinggi. Artinya, kreativitas menuntut disiplin yang tinggi dan konsisten terhadap bidang tugas.
Berpikir kreatif terjadi manakala keempat dimensi keunggulan manusia yakni rasio, emosi, intuisi dan pengindraan (cipta) saling interpenetrasi lintas bidang (Clark, 1983). Selanjutnya Clark (1983) menegaskan bahwa berfungsinya belahan otak kanan secara optimal merupakan prasyrat yang harus diperhatikan agar kemampuan berpikir kreatif dapat berkembang.
Riset-riset di bidang fungsi dan mekanisme kerja otak seperti yang dilakukan Clark (1983), Strongman (1996), LeDoux (1999), dan Levinger (1997) memberikan sumbangan penting terhadap usaha mengembangkan kemampuan berpikir kreatif utamanya dalam hal mengoptimalkan fungsi otak untuk dapat berpikir kreatif. Berpikir kreatif membutuhkan suasana yang rileks dan meditative, hal itu bias terjadi manakala otak bekerja dalam gelombang alpha; dan terjadi proses atomic nuvleus dalam peleburan sel-sel otak kanan dan kiri (cerebral fusion). Maka pembelajaran seharusnya mampu menyulut berfungsinya amygdale sehingga terjadi hubungan yang serasi antara otak intelektual dan otak emosional (Levinger, 1997; Rose dan Nicholl, 1997). Temuan-temuan tersebut memberikan arahan baru dalam desain pembelajaran yang dimaksudkan mampu memberikan rangsangan optimal bagi berfungsinya belahan otak kanan dan kiri secara seimbang.
Untuk dapat berpikir kreatif bukan hanya sebatas memaksimalkan berfungsinya belahan otak kanan semata. Dari perspektif sosiobudaya, berpikir kreatif menuntut atmosphere yang khusus yang oleh Arieti (1976) dikatakan sebagai kebudayaan yang creativogenic. Berpikir kreatif juga membutuhkan adanya psychological freedom dan psychological safety (May, 1978). Tanpa ada rasa aman psikologis dan kebebasan psikologis sulit bagi individu untuk mengembangkan potensi kreativitasnya. Kreativitas memang memerlukan adanya “tekanan” namun bukan pressure yang mematikan, namun tekanan dalam derajat sedang yang justru mampu merangsang tumbuhnya tantangan kreatif. Sudut pandang tersebut di atas turut memberikan sumbangan bagi terjadinya perubahan yang radikal di wilayah desain pembelajaran untuk mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kreatif para siswa; dengan merancang desain pembelajaran yang “menantang’ (Semiawan, 2000).

CRITICAL THINKING (Berpikir Kritis)
Banyak konsep yang diajukan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis. Ada yang menamakan critical analysis, critical awareness, critical consciousness, dialectical thinking dan critical reflection; semua itu merupakan usaha keras yang baik meskipun masih kurang jelas atau samara dalam mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis (Brookfield, 1987:11).
Berpikir kritis menurut Facione (1995) adalah kesangggupan untuk mencari kebenaran, berpikir terbuka, memiliki self confident, inquisitiveness, dan memiliki kematangan. Berpikir kritis memuat tujuh komponen: inquisitiveness, open mindedness, systematicity, analyticity, truth seeking, critical thinking self confidence, maturity.
Untuk dapat berpikir kritis perlu acuan berupa standar intelektual universal meliputi: clarity, accuracy, precision, relevance, depth, breadth, logic; Linda Elder & Ricard Paul (1996). Di samping hal-hal tersebut, kemampuan berpikir kritis menuntut dimilikinya persyratan personal yang oleh Ricard Paul dan Linda Elder (1996) disebut sebagai Valuable Intellectual Traits yang meliputi: Kerendahatian Intelektual, keberanian Intelektual, Empati Intelektual, Integritas Intelektual, Ketekunan Intelektual, Mempercayai pertimbangan yang sehat, Bersikap Tanpa Prasangka.
Berpikir kritis adalah berpikir tingkat tinggi yang membutuhkan strategi pembelajaran berbeda dari pembelajaran biasa yang hanya dimaksudkan untuk transfer knowledge. Strategi-strategi pembelajaran yang ditemukan oleh para peneliti seperti di atas terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Jika dicermati, prosedur yang ditempuh dalam strategi pembelajaran tersebut sesungguhnya tidak terlalu sulit untuk diadopsi dalam pembelajaran di Indonesia.




PERTEMUAN 15
MOTIVASI DAN BELAJAR





PERTEMUAN 16 – UJIAN AKHIR SEMESTER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank yaws