Kamis, 13 Oktober 2011

makalah ragam bahasa indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bahasa Indonesia pada waktu dulu sangat tidak divariasikan dalam pengucapan berbicaranya, dalam penyampaiannya pun kata-katanya hampir baku, tapi tidak semua warga Indonesia pada waktu itu berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hanya orang-orang yang berpendidikanlah yang penggunaan bahasa Indonesianya baku, karena kita ketahui pada zaman dulu jarang orang-orang yang dapat bersekolah. Hanya orang yang mempunyai uanglah yang dapat bersekolah. Walaupun begitu, penggunaan bahasa Indonesia di zaman dulu lebih baik dari penggunaan bahasa Indonesia di zaman sekarang.
Bahasa mengalami perubahan seiring dengan perubahan masyarakat. Perubahan itu berupa variasi-variasi bahasa yang dipakai sesuai keperluannya. Agar banyaknya variasi tidak mengurangi fungsi bahasa sebagai alat komunikasi yang efisien, dalam bahasa timbul mekanisme untuk memilih variasi tertentu yang cocok untuk keperluan tertentu yang disebut ragam standar (Subarianto, 2000). Bahasa Indonesia memang banyak ragamnya. Hal Ini karena bahasa Indonesia sangat luas pemakaiannya dan bermacam-macam ragam penuturnya. Oleh karena itu, penutur harus mampu memilih ragam bahasa yang sesuai dengan dengan keperluannya, apapun latar belakangnya.
1.2 Rumusan Masalah
• Apa pengertian ragam bahasa?
• Jelaskan macam-macam ragam bahasa Indonesia!
1.3 Tujuan
• Dapat menjelaskan pengertian ragam bahasa.
• Dapat menjelaskan macam – macam ragam bahasa Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Ragam Bahasa
Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang pemakaiannya berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, lawan bicara, dan orang yang dibicarakan, serta menurut media pembicaraan. Variasi tersebut bisa berbentuk:
Dialek yaitu varian dari sebuah bahasa menurut pemakai. Biasanya pemberian dialek adalah berdasarkan geografi, namun bisa berdasarkan faktor lain, seperti faktor sosial. Sebuah dialek dibedakan berdasarkan kosa kata, tata bahasa dan pengucapan. Berdasarkan pemakaian bahasa, dialek dibedakan menjadi:
1. Dialek regional: varian bahasa yang dipakai di daerah tertentu. Contohnya: bahasa Melayu, dialek Jakarta,dll.
2. Dialek sosial: dialek yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu atau yang menandai strata sosial tertentu. Contohnya: dialek remaja.
3. Dialek temporal: dialek yang dipakai pada kurun waktu tertentu. Contohnya: dialek Melayu zaman Sriwijaya.
4. Idiolek: keseluruhan ciri bahasa seseorang yang khas pribadi dalam lafal, tata bahasa, atau pilihan kekayaan kata.
Aksen, dapat mengacu kepada hal-hal di bawah ini:
• Stres(linguistic), suku kata sebuah kalimat yang diucapkan dengan penekanan terbanyak.
• Logat, alunan nada yang dimiliki oleh masing-masing orang sesuai adal daerahnya.
• Aksen(musik), penekanan pada nada dalam musik.
Laras Bahasa adalah ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu. Salah satu model pembagian laras bahasa yang paling terkemuka diajukan oleh Joos(1961) yang membagi lima laras bahasa menurut derajat keformalannya, yaitu:
1. baku(frozen) digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan, seperti pada kitab suci, upacara pernikahan,dll.
2. resmi(formal) digunakan dalam komunikasi resmi, seperti pidato resmi, rapat resmi, dan jurnal ilmiah.
3. konsultatif(consultative) digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi, seperti percakapan di pasar,dll.
4. santai(casual) digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
5. akrab(intimate) digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.
Sosiolinguistik adalah variasi bahasa yang dipengaruhi oleh budaya. Dalam hal ini bahasa berhubungan erat dengan masyarakat suatu wilayah sebagai subyek atau pelaku sebagai alat komunikasi dan interaksi antara kelompok yang satu dengan yang lain.

2.2. Macam-Macam Ragam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia mengenal empat ragam bahasa ,yaitu ragam bahasa hukum(undang-undang),ragam bahasa ilmiah,ragam bahasa jurnalistik, dan ragam bahasa sastra (Doyin 2002:6). Keempat ragam tersebut diuraikan berikut:
2.2.1 Ragam Undang- Undang
Ragam undang- undang disebut juga ragam hukum, yaitu bahasa Indonesia yang digunakan pada kalangan hukum atau pada undang- undang(Warigan dan Doyin 2005:4). Ragam hukum mempunyai ciri khusus pada pemakaian istilah dan komposisinya. hukum ini biasa dipakai dalam undang – undang ,peraturan – peraturan ,atau pada hal-hal yang berkaitan dengan hukum. Dalam kehidupan sehari- hari ragam ini jarang sekali digunakan.
Kekhususan-kekhususan tersebut dapat dilihat , misalnya , pada surat keputusan . konsideran dalam surat keputusan , dari menimbang,mengingat ,memutuskan,sampai menetapkan susunannya selalu tetap, tidak boleh diubah dan tidak boleh ditambah atau dikurangi. Dalam lapangan kepolisian kita juga mengenal sebutan- sebutan khusus yang tidak lazim digunakan dalam bahasa sehari – hari, misalnya dirumahkan, dibunuh dengan senjata tajam, kemasukan benda tumpul, dan sebagainya.

2.2.2 Ragam Jurnalistik
Ragam jurnalistik adalah ragam bahasa yang dipakai dalam dunia jurnalistik. Karena fungsi media massa sebagai media informasi, kontrol sosial, alat pendidikan , dan alat penghibur, maka ragam bahasa jurnalistik setidaknya harus mempunyai ciri komunikatif , sederhana, dinamis, dan demokratis(lihat juga Siregar 1987:122).
Ciri komunikatif berarti mudah dipahami dan tidak menimbulkan salah tafsir kalau dibaca. Ciri ini merupakan ciri utama bahasa jurnalistik karena fungsi utama media massa memang memberikan informasi. Dikatakan ciri utama karena ciri –ciri yang lain harus mengacu pada ciri komunikatif. Bahasa jurnalistik harus bersifat sederhana, dinamis, dan demokratis. Namun kesederhanaan , kedinamisan, dan kedemokratisan ini harus mendukung komunikatif. Seandainya kita memakai bahasa yang sederhana dan demokratis ,misalnya, namun bahasa tersebut tidak komunikatif, maka dalam prinsip jurnalistik penggunaan bahasa yang demikian harus dihindarkan. Bahkan kadang- kadang untuk mewujudkan ciri komunikatif ini bahasa jurnalistik tidak menaati kaidah bahasa Indonesia yang benar. Sepanjang penyimpangan itu ditunjukan untuk lebih komunikatif, maka penyimpangan tersebut diperbolehkan. Misalnya penggunaan kata- kata atau istilah-istilah daerah. Dalam kasus-kasus tertentu kata – kata daerah akan lebih komunikatif untuk daerah tertentu tersebut dibandingkan dengan kata-kata bahasa Indonesia. Dalam kondisi demikian penyimpangan dari kaidah bahasa Indonesia diperbolehkan.
Ciri sederhana berarti tidak menggunakan kata –kata yang bersifat teknis dan tidak menggunakan kalimat yang berbelit- belit atau berbunga-bunga. Apabila memang diperlukan , kata- kata teknis harus diikuti penjelasan maknanya. Hal ini harus dilakukan agar pembaca dapat memahami kata-kata tersebut. Dalam bahasa sehari-hari sederhana sama artinya dengan prinsip singkat dan padat.
Ciri dinamis berarti bahasa jurnalistik harus menggunakan kata-kata yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Kata-kata yang tidak lazim kata-kata yang sangat asing seyogyanya tidak dipergunakan. Sebagai contoh sederhana jika kata efektif dan efesien sudah diterima masyarakat , kita tidak perlu memaksakan menggunakan kata sangkil dan mangkus untuk menggunakannya. Kalimat yang dinamis dalam bahasa jurnalistik adalah kalimat- kalimat yang mampu memberikan semangat dan sesuai dengan situasi masyarakat pembacanya.
Ciri demokratis berarti mengikuti konsesus umum dan tidak menghidupkan kembali feodalisme . kata bujang , misalnya, dalam bahasa Indonesia mempunyai makna seorang laki – laki yang belum menikah. Selain kata bujang, untuk hal yang sama kita juga memiliki kata lajang. Kata lajang dalam hal ini lebih demokratis daripada kata bujang , karena di daerah Sumatra utara kata bujang berarti pembantu. Hal ini berarti makna kata bujang yang berarti laki – laki yang belum menikah tidak berlaku secara umum untuk seluruh masyarakat Indonesia.
Penggunaan kata – kata yang masih feodal dalam bahan jurnalistik juga dikatakan tidak demokratis. Penyebutan Yang Mulia , kami haturkan , dan sebagainya merupakan wujud kata – kata feodal. Dalam tradisi jurnalistik kita sekarang kata Anda yang merupakan cerminan kata yang demokratis. Kata Anda berlaku untuk siapa saja tanpa membedakan pangkat dan derajat. Kita bisa memakai kata Anda untuk seorang presiden, kita juga bisa menggunakannya untuk seorang pengemis.
Pendek kata, prinsip efektif dan efesien adalah prinsip utama yang ada dalam bahasa jurnalistik . simpulan ini juga tidak jauh berbeda dengan pendapat Rosihan Anwar ( dalam Semi 1995:113). Rosihan Anwar pernah mengatakan bahwa ciri khas bahasa jurnalistik adalah singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, dan menarik. Meskipun demikian prinsip-prinsip umum bahasa Indonesia, yang didalamnya termasuk diksi dan ejaan, tetap diperhatikan.

2.2.3 Ragam ilmiah
Ragam ilmiah adalah ragam bahasa Indonesia yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Ragam inilah yang disebut ragam baku. Ragam ini ditandai dengan adanya ketentuan – ketentuan baku , seperti aturan ejaan, kalimat, atau penggunaannya. Dalam bahasa Indonesia kebakuan bahasa dibarometeri oleh Ejaan Yang Disempurnakan(EYD), Tata Bentukan Istilah, Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Penjelasan lebih lanjut masalah ragam ilmiah disampaikan pada subbab bahasa dalam karya ilmiah.
Bahasa Indonesia ragam ilmiah menurut Moeliono (1989:73-74) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Bersifat formal obyektif
2) Lazimnya menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan ragam kalimat pasif
3) Menggunakan titik pandang gramatik yang bersifat konsisten.
4) Menggunakan istilah khusus dalam bidang keilmuan yang sesuai.
5) Tingkat formalitas ragam bahasa bersifat resmi.
6) Bentuk wacana yang digunakan adalah ekspoitoris/eksposisi, bukan argumentasi, narasi atau deskripsi.
7) Gagasan diungkapkan dengan lengkap,jelas ,ringkas dan tepat.
8) Menghindari ungkapan yang bersifat ekstrem dan emosional.
9) Menghindari kata-kata yang mubazir.
10) Bersifat moderat.
11) Digunakan sebagai alat komunikasi dengan pikiran dan bukan dengan perasaan.
12) Ukuran panjang kalimat sedang.
13) Penggunaan majas sangat dibatasi.
14) Lazim dilengkapi dengan gambar , diagram,peta,daftar , dan lambang.
15) Menggunakan lambang mekanis secara tepat, seperti ejaan, lambang, singkatan, dan rujukan.
Berkaitan dengan ragam bahasa ilmiah , Suparno(1984:1-14)mengemukakan tujuh ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah, yakni:
1) Bernalar
2) Lugas dan jelas
3) Berpangkal tolak pada gagasan dan bukan pada penulis
4) Formal dan objektif
5) Ringkas dan padat
6) Konsisten
7) Menggunakan istilah teknis.
Sebagai bahan perbandingan , perlu pula diperhatikan ciri ragam bahasa ilmiah yang dikemukakan oleh Ramlan dkk.(1990:9-10) yakni
1) Baku
2) Menggunakan istilah teknis
3) Lebih berkomunikasi menggunakan pikiran daripada perasaan
4) Padu dalam hubungan gramatikal
5) Logis dalam hubungan semantik
6) Mengutamakan menggunakan kalimat pasif untuk mengutamakan peristiwa daripada kalimat aktif yang mengutamakan pelaku
7) Konsisten dalam banyak hal(penggunaan istilah,tanda baca, dan kata ganti).

2.2.4 Ragam Sastra
Ragam sastra adalah bahasa yang digunakan dalam penulisan karya sastra. Ragam sastra mempunyai ciri khusus dengan adanya licencia poetica,yakni kebebasan menggunakan bahasa untuk mencapai keindahan . oleh karena itu secara umum bahasa sastra selalu disebut bahasa yang indah . prinsip licencia poetica adalah memperbolehkan pemakai bahasa menyimpang atau menyalahi kaidah bahasa demi keindahan karyanya. Dalam penggunaan licentia poetica ini, misalnya, penulis boleh menggunakan kalimat yang tidak lengkap, kata – kata yang tidak baku, bahasa daerah,membalik susunan kata atau struktur kalimat, dan sebagainnya.



BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang pemakaiannya berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, lawan bicara, dan orang yang dibicarakan, serta menurut media pembicaraan. Bahasa Indonesia mengenal empat ragam bahasa ,yaitu ragam bahasa hukum(undang-undang),ragam bahasa ilmiah,ragam bahasa jurnalistik, dan ragam bahasa sastra
3.2 Saran
Sebagai warga Negara yang baik, ketika akan berbicara dengan orang lain alangkah baiknya dapat mengetahui ragam bahasa yang akan digunakan. Penggunaan ragam bahasa yang tepat dapat memberikan komunikasi yang efektif sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman bagi komunikan dan komunikator.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thank yaws