Jumat, 25 November 2011

lahirnya pendidikan jarak jauh di indonesia

MAKALAH

LAHIRNYA PENDIDIKAN JARAK JAUH DI INDONESIA




Disampaikan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Sistem Belajar Mandiri
Dosen Pengampu : Drs. Wardi


Disusun oleh :
Siti Maghfiroh 1102409019
Umi Kulsum 1102410065
Febryan dody irwadi 1102410026


KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011


BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Kondisi yang telah menunjang dan memacu lahirnya PTJJ di Indonesia yaitu:
• Komitmen terhadap pendidikan untuk pembangunan bangsa Indonesia merupakan suatu amanat yang tertera di dalam Pembukaan UUD 1945. Di dalam Pembukaan Konstitusi tersebut dengan jelas dikatakan bahwa tujuan untuk membangun Negara Indonesia ialah antara lain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. diperlukan suatu sistem pendidikan.
• Keterbatasan Sumber Daya dan Dana
• Akselerasi Pembangunan Nasional, pembangunan bukan hanya difokuskan kepada
infrastruktur ekonomi tetapi juga untuk pembangunan manusianya.
Kondisi tersebut secara keseluruhan telah melahirkan suasana kondusif bagi lahirnya suatu sistem pendidikan jarak jauh sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional di kemudian hari.

2. Rumusan masalah
• Sejarah Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh
• Definisi Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh
• Faktor Pendukung Pengembangan PTJJ di Indonesia
• Pendidikan Konvensional dan Nonkonvensional.

3. Tujuan
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional melalui penyelenggaraan pendidikan dengan sistem belajar terbuka dan jarak jauh pada semua jalur,jenjang, dan jenis pendidikan. Dengan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh diharapkan dapat mengatasi masalah kesenjangan pemerataan kesempatan, peningkatan mutu, relevansi dan efisiensi dalam managemen pendidikan yang disebabkan oleh berbagai factor hambatan seperti kondisi, jarak, tempat, dan waktu



BAB II
PEMBAHASAN

1. Sejarah Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh
Rencana Pembangunan Lima Tahun yang pertama (REPELITA I), pada April tahun 1969 dimula langkah pertama pembangunan tersebut. Data yang digunakan di dalam rencana pembangunan nasional tersebut masih kurang memadai, termasuk didalamnya rencana pembangunan pendidikan nasional. Disadari bahwa pendidikan nasional pada waktu itu membutuhkan penanganan yang serius namun porsi alokasi pembangunan sektor pendidikan di dalam pembangunan nasional masih sangat kecil. Meskipun rencana pembangunan sudah mulai dilaksanakan pada 1April 1969, Pemerintah menyadari suatu keharusan memperoleh suatu gambaran yang menyeluruh dan lebih akurat mengenai keadaan pendidikan nasional.

Dalam kaitan ini dilaksanakan Seminar Nasional mengenai pendidikan yang dikenal sebagai Konperensi Cipayung pada tanggal 28-30 April 1969 ketika 100 orang pakar dari berbagai disiplin mengindentifikasikan beragam masalah pendidikan nasional. Salah satu implikasi dari Konferensi Cipayung ialah lahirnya Proyek Penilaian Nasional Pendidikan (PPNP) I pada 1 Mei 1969. Proyek ini telah menghasilkan suatu gambaran menyeluruh mengenai pendidikan nasional. Salah satu strategi yang perlu dikembangkan adalah bagaimana sistem pendidikan nasional yang ada dapat menampung kebutuhan pendidikan yang semakin lama semakin meningkat. Artikel ini menunjukkan beberapa kondisi yang menunjang lahirnya pendidikan terbuka dan jarak jauh (PTJJ) di Indonesia serta berbagai faktor pendukung dalam pengembangannya sampai pada pertengahan dekade 80-an atau akhir PELITA III.

Pada masa itu sudah terdapat berbagai kursus tertulis yang diselenggarakan melalui pos seperti kursus pemegang buku (Boekhoulding) serta beragam kursus bahasa asing (misalnya Belanda dan Inggris). Kesempatan dan sarana pendidikan yang kurang memadai telah mendorong lahirnya bermacam jenis
pendidikan alternatif tersebut di samping adanya kursus tatap muka. Disamping itu terdapat berbagai kondisi yang menunjang perkembangan dari PTJJ di Indonesia.



2. Definisi Pendidikan Jarak Jauh
Sebuah perluasan definisi pendidikan jarak jauh didesak oleh Barker, Frisbie dan Patrick (1989) yang mengakui studi korespondensi sebagai landasan historis dari pendidikan jarak jauh tetapi menunjukkan bahwa ada benar-benar dua bentuk pendidikan jarak jauh. Salah satunya adalah korespondensi tradisional berbasis pendidikan jarak jauh yang berorientasi studi independen dan yang kedua adalah telekomunikasi berbasis pendidikan jarak jauh yang menawarkan pengajaran dan pengalaman belajar secara simultan (1989).
Para Garrison dan Shale definisi pendidikan jarak jauh (1987) menawarkan seperangkat minimum kriteria dan memungkinkan lebih banyak fleksibilitas. Mereka berpendapat bahwa:
• pendidikan jarak jauh menyiratkan bahwa mayoritas komunikasi pendidikan antara guru dan siswa terjadi non contiguously
• pendidikan jarak jauh melibatkan komunikasi dua arah antara guru dan siswa untuk tujuan memfasilitasi dan mendukung proses pendidikan
• pendidikan jarak jauh menggunakan teknologi untuk memediasi komunikasi dua arah yang diperlukan.
Pendidikan Terbuka/Jarak Jauh adalah suatu bentuk pendidikan yang mempunyai karakteristik sebagai berikut:
• Dalam sistem PT/JJ siswa dan guru bekerja secara terpisah sepanjang proses belajar itu. Ini berarti bahwa siswa harus dapat belajar secara mandiri. Bantuan belajar yang diperoleh dari orang lain sangat terbatas.
• Dalam sistem PT/JJ ada lembaga pendidikan yang merancang dan menyiapkan bahan belajar, serta memberikan pelayanan bantuan belajar kepada siswa. Adanya lembaga pendidikan ini membedakan sistem PT/JJ dari proses belajar sendiri (private study) atau teach yourself programmes.
• Dalam sistem PT/JJ, pelajaran (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) disampaikan kepada siswa melalui media seperti media cetak, radio, kaset audio, TV, kaset video, slide, CD-ROM (program video dalam piringan kecil) dan sebagainya.
• Dalam sistem PT/JJ ada usaha untuk terjadinya komunikasi dua arah antara siswa dan guru atau antara siswa dengan lembaga penyelenggara, atau antara siswa dengan siswa lain.
• Dalam sistem PT/JJ tidak ada kelompok belajar yang bersifat tetap sepanjang masa belajarnya. Karena itu siswa PT/JJ menerima pelajaran secara individual bukannya secara kelompok.

3. Faktor Pendukung Pengembangan PTJJ di Indonesia
Beberapa faktor pendukung pengembangan PTJJ. Berikut ini dibahas lima faktor yang merupakan cikal-bakal tumbuhkembangnya PTJJ:
• Falsafah Belajar Seumur Hidup, sungguhpun falsafah pendidikan seumur hidup telah lama dikenal di dalam konsep pendidikan Indonesia dengan adanya pendidikan masyarakat namun belajar seumur hidup sebagai suatu konsep pendidikan relatif belum lama diterima oleh dunia pendidikan di Indonesia.
• Education for All, dewasa ini dunia melihat pendidikan merupakan hak manusia. Pendidikan harus dijadikan sebagai kebutuhan pokok untuk mempertahankan dan meningkatkan martabat manusia.
• Program Studi Teknologi Pendidikan, sejalan dengan berkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi.
• Inovasi Pendidikan, meskipun inovasi pendidikan di Indonesia berjalan tersendatsendat namun didesak oleh kebutuhan dan didukung oleh kemajuan teknologi komunikasi maka teknologi pendidikan juga memasuki inovasi pendidikan nasional.
• Teknologi Pendidikan, Teknologi pendidikan pada awal mulanya berkembang untuk
meningkatkan kemampuan mengajar para guru.









4. Pendidikan Konvensional dan Nonkonvensional
Dalam membicarakan PT/JJ para ahli seringkali membadingkannya dengan pendidikan konvensional (pendidikan langsung=direct education) dan pendidikan nonkonvensional (pendidikan tidak langsung=indirect education). Dalam uraian berikut ini akan dibahas perbedaan pokok antara pendidikan konvensional dan nonkonvensional.
a. Pendidikan konvensional
Pendidikan konvensional ialah pendidikan persekolahan yang menggunakan sistem klasikal dalam menyampaikan pelajarannya. Kay dan Rumble (1979) memberi batasan pendidikan konvensional sebagai “proses pembelajaran berdasarkan pelajaran klasikal yang diberikan di sekolah, universitas, akademi, dsb. Pada sistem ini guru dan siswa secara fisik hadir di ruang kelas pada saat yang sama.” Dalam buku kepustakaan pendidikan dikatakan bahwa:”pendidikan konvensional itu merupakan penyediaan pendidikan yang biasa (normal) dan proses pembelajarannya berlangsung secara tatap muka di ruang kelas yang ada di sekolah. Pada pendidikan konvensional terdapat ciri-ciri sebagai berikut:
• Siswa dan guru hadir di ruang yang sama di waktu yang sama untuk melaksanakan proses belajar-mengajar.
• Proses belajar-mengajar dilakukan secara tatap muka.
• Tujuan belajar, bahan belajar, dan evaluasi belajar semuanya ditentukan oleh guru.
• Dalam sistem ini guru mengajar dan siswa mengikuti pelajaran dari guru.

b. Pendidikan nonkonvensional
Pendidikan dapat dikatakan langsung atau tidak langsung berdasarkan sesuai tidaknya dengan pendidikan konvensional. Pendidikan yang tidak diberikan secara tatap muka dapat disebut pendidikan tidak langsung. Pada pendidikan jenis ini isi pelajaran (learning contents) disampaikan melalui berbagai jenis media seperti surat, media cetak, kit belajar, media audio visual seperti radio, tv, kaset audio, kaset video, film, slide, pembelajaran dengan bantuan komputer, dan sebagainya. Karena itu pendidikan tidak langsung seringkali disebut juga pendidikan dengan perantaraan media (mediated education)
Pendidikan dengan perantaraan media atau pendidikan tidak langsung itu sedikitnya mempunyai dua karakteristik yang sama dengan karakteristik PT/JJ, yaitu bahwa
• Pada kedua sistem itu siswa dan guru tidak berada di satu ruang kelas pada saat proses belajar terjadi. Dengan perkataan lain pelajaran tidak disampaikan secara tatap muka.
• Pada kedua sistem itu pelajaran disampaikan dengan menggunakan perantaraan media.
Karena itu PT/JJ itu dapat digolongkan dalam pendidikan tidak langsung. Tetapi sebaliknya karena pendidikan tidak langsung itu tidak selalu memenuhi semua ciri atau karakteristik BT/JJ, maka pendidikan tidak langsung itu tidak identik dengan PT/JJ.

Penyelenggaraan PTJJ bisa dilakukan oleh organisasi secara khusus atau bekerja sama dengan lembaga terkait. Menurut Perry dan Rumble, ada tiga organisasi penyelengaraan PJJ yaitu lembaga tunggal (single mode), lembaga dwifungsi (dual mode), dan lembaga Campuran (mix mode). Lembaga tungga (single mode) adalah lembaga pendidikan yang didirikan mengkhususkan untuk penyelenggaraaan pendidikan jarak jauh, misalnya Universitas Terbuka. Lembaga dwifungsi (dual mode) adalah lembaga pendidikan yang awalnya menyelenggarakan pendidikan konvensional, tetapi dalam perkembangannya menyelenggarakan pendidikan jarak jauh.

Di era reformasi lembaga seperti ini dimungkinkan untuk bisa dilaksanakan. Misalnya Universitas Indonesia disamping menyelenggarakan pendidikan konvensianal juga membuka PTJJ. Sedangkan Lembaga campuran (mix mode) adalah lembaga pendidikan yang memberikan kebebesan pada peserta didiknya untuk mengikuti pendidikan konvensional atau PTJJ. Hal ini berarti pemerintah daerah bisa memilih bentuk yang cocok dalam penyelenggaraan PTJJ, misalnnya bekerjasama dengan lembaga yang secara khusus menangani pendidikan jarak jauh khususnya dalam hal pengembangan sistem, bahan belajar, dan SDM-nya. Sistem dan bahan belajar tersebut tentu saja disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah.

Dalam kerjasama ini ada beberapa bentuk yang bisa ditempuh antara lain pemerintah daerah mengikuti apa adanya semua sistem pendidikan jarak jauh yang telah ada di lembaga penyelenggara tanpa menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Misalnya pemerintah daerah bekerjasama dengan Universitas Terbuka; kurikulum, bahan belajar, dan sistem belajarnya mengikuti sistem yang diterapkan oleh UT. Pilihan ini bisa di tempuh terutama oleh daerah yang kemampuan dananya terbatas.

Saat ini sudah banyak jenis pendidikan terbuka/jarak jauh yang ditawarkan lembaga-lembaga baik dari dalam maupun luar negeri. Berdasarkan data ICDL (International Center for Distance Learning) tahun 1997 tercatat ada 1.035 buah lembaga penyelenggara pendidikan terbuka/jarak jauh. Di Asia saja tercatat 116 lembaga yang tersebar di 20 negara termasuk Indonesia (Arief S. Sadiman, 2000). Ini berarti peluang daerah dalam penyelenggaraan PTJJ semakin terbuka.

Pemerintah daerah bisa juga bekerjasama dengan lembaga penyelenggara PTJJ, hanya mungkin beberapa materi pelajaran disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Di sini proses belajar atau sistem pengelolaanya dapat pula disesuaikan dengan kondisi daerah.

Bentuk lainnya, pemerintah daerah bekerjasama dengan lembaga pendidikan yang ada di daerahnya dalam mengembangkan sistem pendidikan terbuka/jarak jauh. Misalnya Kabupaten Bandung mengembangkan pendidikan atau pelatihan untuk peningkatan kualifikasi para pertani di darerahnya. Hanya saja jika untuk jangkauan yang kecil/sedikit pengembangan PTJJ kurang efisien. Oleh karena itu bisa juga beberapa daerah yang berdekatan atau memiliki kebutuhan yang relatif sama melakukan kerjasama dalam mengembangkan PTJJ. Kerjasama ini didasarkan pada kebutuhan dan keinginan yang sama dalam meningkatkan SDM di daerahnya masing-masing. Untuk menjaga mutu PTJJ pemerintah pusat mempunyai kewajiban penting dalam membuat aturan atau standarisasi kompetensi dasar.





BAB III
PENUTUP

Pesatnya perkembangan teknologi dapat meningkatkan kebutuhan akan pendidikan profesional yang berkelanjutan.Daya jangkau PTJJ sangat luas. Melalui pemanfaatan teknologi komunikasi dan infomasi, pendidikan ini bisa menjangkau peserta didik yang luas bahkan di daerah terpencil yang sulit dijangkau transportasi. Ini berarti bagi daerah yang secara geografis sulit, bisa menerapkan sistem pendidikan ini.PTJJ bisa mengatasi keterbatasan fasilitas belajar, ruang belajar, atau tenaga guru. Karena PTJJ bisa memaksimalkan sumber belajar yang ada dan tidak perlu ruang khusus. Oleh karena itu PTJJ lebih efiesien. Peserta didik dibiasakan belajar melalui berbagai sumber belajar, dimana saja setiap mereka ada kesempatan untuk belajar.



















8

Daftar Pustaka

http://aristorahadi.wordpress.com/2008/08/10/konsepsi-pendidikan-terbukajarak-jauh/lppm.ut.ac.id/pdffiles/4_tilaar.pdf

http://saina-kurtekdik.blogspot.com/2008/05/wacana-indah-tentang-pendidikan-terbuka_07.html

http://saina-mu.blogspot.com/

Bates, A.W. 1995. Technology, open learning, and distance education. New York:Routledge.

















9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank yaws